Sabtu, 06 Juni 2020

SINERGI STAKE HOLDER MENJADI DAYA PENGUNGKIT BAGI GURU ABAD 21 YANG BERUPAYA BANGKIT

SINERGI STAKE HOLDER MENJADI DAYA PENGUNGKIT

    BAGI GURU ABAD 21 YANG BERUPAYA BANGKIT

Bagian 1     Guru Abad 21

a. Guru Pembelajar

Guru abad 21 harus punya kesadaran untuk selalu belajar. Saat ini guru bukanlah orang yang paling tahu diruang kelas.

Teknologi TIK telah memudahkan siswa mengakses informasi dan pengetahuan yang sangat mungkin guru belum mengetahuinya.

Oleh karenanya guru perlu selalu mengupdate informasi dan pengetahuan dan belajar sepanjang hayat.

Maka diera kekinian guru harus terus menerus belajar, tidak keren jika guru tidak lagi belajar.

b. Guru yang mampu menginternalisasi kompetensi abad 21.

Guru abad 21 harus cakap mengelola pembelajaran untuk mengembangkan kompetensi abad 21 peserta didik yakni critical thinking, creative, communication, dan collaboration (4C).

 

Bagian 2     Membangkitkan Guru Pembelajar Abad 21

Seorang ibu guru sejarah tiba-tiba marah-marah. Sejurus kemudian beliau menyuruh beberapa siswa berjemur di bawah terik matahari.

Setelah dikonfirmasi siswa yang dijemur karena terlambat masuk kelas akibat asyik bermain playstation.

Namun sayangnya, ibu guru bilang anak-anak bermain base jam. Maka anak-anakpun menjuluki ibu guru sejarah dengan ibu base jam.

Apa korelasinya dengan membangkitkan guru?

Fenomena jaman ini terkadang guru bisa mendapatkan perlakuan tidak semestinya, meski sesungguhnya beliau tidak sengaja malah beritikad baik ingin menanamkan karakter disiplin. Bahkan perlakuan tidak semestinya ini sampai tingkat ranah hukum dan kriminalisasi.

Oleh karena itu jangan biarkan guru mananggung beban sendirian. Mari para pihak bersinergi meraih tangannya untuk bangkit menjadi guru abad 21.

Jangan biarkan tertatih sendirian mecari solusi permasalahan, You’ll never walk alone.

Dan kepala sekolah beserta stake holder bisa bersinergi menjadi faktor ungkit agar guru bangkit dan tetap tegar dijalur kreatif saat kegiatan belajar-mengajar.

Kepala sekolah beserta stake holder sekolah bisa membantu guru untuk bangkit menjadi guru abad 21 melalui langkah-langkah:

a. Gelitik guru untuk melek TIK

Dewasa ini kesadaran guru untuk menguasai TIK sepertinya sudah cukup maju, masalahnya perkembangan teknologi TIK jauh lebih maju.

Perkembangan yang sangat pesat menyebabkan kemampuan guru untuk mengejar ketertinggalan kurang cepat, tidak jarang guru malah terengah dan berhenti.

Oleh karenanya, kata menggelitik sangat pas agar guru tetap terjaga matanya dan hasratnya untuk tetap mempelajari dan memanfaatkan TIK, karena pemanfaatan TIK adalah keniscayaan.

b. Memantik KBM dengan pendekatan saintifik apalagi STEM.

Pendekatan saintifik awalnya disarankan sebagai pendekatan yang ideal untuk kurikulum 2013.

Sayangnya sampai sejauh ini guru masih kurang menguasai dan nampaknya sudah tidak mengimplementasikan lagi dalam proses pembelajaran.

Boleh jadi guru sudah kehilangan motivasi mengajar dengan pendekatan yang kreatif karena tidak ada pengaruh yang signifikan, cakupan kurikulum yang luas dan padat jadi alasan.

Sekedar mengingatkan bahkan untuk mengingat kegiatan-kegiatan belajar dalam pendekatan saintifik saja masih banyak guru yang belum bisa menyampaikan.

Maka bapak ibu guru bisa mencoba bertanya kepada personil grup lawak yang calon guru (Cagur) yakni Narji,

Selamat bertanya coba kepada Narji

(Mat)  (Tanya)  (Coba)  (Narji)

Mat (mengamati) - Tanya (menanya) - Coba (mencoba) - Narji (nalar dan menyaji).

Mengamati - Menanya - Mencoba - Menalar - Menyaji (5M) hampir tidak terlihat lagi pada KBM saat ini. Padahal sosialisasi dan workshop telah diselenggarakan berkali-kali.

Oleh karena itu yang diperlukan adalah menyalakan (memantik) agar guru tetap termotivasi.

Pendekatan STEM memang pendekatan yang dikenalkan terbaru dalam KBM, secara garis besar pendekatan ini memerlukan langkah-langkah:

1. Memetakan KD yang cocok disajikan dengan pendekatan STEM.

2. Merencanakan pembelajaran dan membagi tugas-tugas untuk tiap personil atau kelompok dalam kelas.

3. Mencoba melaksanakan KBM dengan STEM.

4. Ekspos KBM dengan pendekatan STEM.

Ekspos sebaiknya dilaksanakan diaula sekolah dengan mengundang orang tua, dunia usaha dan dunia industri. Kepala sekolah dapat mengkombinasikan dan memodifikasi sedemikian rupa kegiatan kelas orang tua dan kelas inspirasi dalam program pendidikan keluarga.

Undang juga alumni yang sukses, maka kegiatan akan berlangsung seru dan akan ada tanggapan dan tindak lanjut yang luar biasa manfaatnya untuk sekolah.

Alumnus yang sukses misal jadi dokter atau rektor bisa dihadirkan bersama guru sekolah yang menjadi idolanya. Dialog antara guru dan mantan muridnya ini akan menjadi masukan dan inspirasi bagi guru lain disekolah tersebut, apalagi guru-guru muda.

5. Bimbing guru dengan pengembangan soal HOTS

Evaluasi dengan soal HOTS akan membuat pencapaian 4C semakin ideal.

Bimbingan bisa dilakukan dengan cara diskusi dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan media laptop dan proyektor maka diskusi grup semakin hidup.

Salah satu teknik FGD sebagai alternatif adalah VCD => CCTV => 4C

Video content HOTS didiskusikan (VCD) => diberi contoh, dicoba bikin dan langsung diketik dalam laptop, langsung hasilnya ditayang visualkan.

Contoh - Coba - Tayangkan visual (CCTV diharapkan tercapai 4C)

Kegiatan FGD akan terasa lebih serius dan bersemangat jika dikolaborasikan dengan program SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal). Beda visi antara Tim Mutu (tim akselerasi) dengan Tim Evaluasi (assessment) bisa menjadikan diskusi semakin kaya aksi.